Selamat datang di Sekolah Ramah Anak?

Diterbitkan :

Berbagai macam himpitan dan permasalahan yang terjadi dalam hidup dan penghidupan  telah mencetuskan budaya stress pada masyarakat. Selain itu, faktor dominan yang memicu budaya tersebut yakni ketidakmampuan masyarakat mengimbangi lintas kemajuan teknologi dan pesatnya arus informasi.

Akibatnya, lazim terjadi di masyarakat,  kasus kriminal kecil berakibat pada sesuatu yang sangat mengerikan. Jambret tewas terbakar, pencuri yang meregang nyawa akibat dikeroyok oleh massa serta aksi-aksi yang tak kalah kejam lainnya.

Pada sisi yang lain, pelaku kejahatan juga menunjukkan aksi keberingasannya di luar batas kemanuasian. Perampokan dan pembegalan yang disertai pembunuhan terlalu sering kita konsumsi sebagai pemberitaan harian.

Lantas bagaimana dengan dunia pendidikan? Apakah di dunia yang mengajarkan akhlak mulia, moral dan kecerdasan ini terhindar dari budaya kekerasaan ini? Sukar meng-iya-kan, sebab pada kenyataannya, kita masih sering disuguhi fenomena tawuran antarpelajar, maraknya aksi bullying, kasus pornoaksi dan pornografi yang tidak saja melibatkan pelajar tetapi juga merambah  melibatkan guru.

Ironisme ini menghadirkan kekhawatiran orang tua siswa terhadap anaknya selama berada di lingkungan sekolah/madrasah. Yang pada akhirnya jika terus dibiarkan akan menjadi hilangnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan.

Mencermati hal sedemikian, kiranya perlu langkah taktis guna mengurangi atau bahkan mengikis tuntas aksi kekerasaan di ranah sekolah/madrasah. Pertama dan utama adalah dengan menciptakan sekolah/madrasah yang ramah anak.  Dalam artian sederhana, sekolah/madrasah yang memprogramkan hal ini mampu menjamin bahwa semua potensi kemampuan anak dapat tereksploitasi dengan baik dan terlindung dari tindak kekerasan dan diskriminasi.

Program sekolah/madrasah ramah anak ini memerlukan prinsip-prinsip yang mesti dikembangkan, yakni tanpa kekerasan, tanpa diskriminasi berorientasi pada kepentingan terbaik anak, terjaminnya hak tumbuh dan berkembang, serta menghargai terhadap pendapat anak. Kesemua prinsip itu harus terimplentasi pada ranah kebijakan, manajemen, peraturan sekolah/madrasah, sarana dan prasarana, lingkungan serta relasi sehari-hari antara pemangku kepentingan.

Oleh karena itu, kebijakan yang berpihak pada kepentingan anak perlu digalakkan. Semisal program sekolah/madrasah Adiwiyata terkait lingkungan, program sekolah/madrasah Sehat termasuk di dalamnya kantin sehat dan kantin kejujuran serta penggalakan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan program-program lainnya yang menjamin keberhasilan tumbuh kembang potensi anak.

Di samping itu, hukuman yang bersifat pada tindak kekerasan pada anak juga mesti dihilangkan. Mencubit, memukul, menjewer dan menjemur siswa adalah segeilitir contoh hukuman fisik. Demikian pula dengan hukuman psikis semisal perkataan dan umpatan yang kotor terhadap siswa, mempermalukan siswa dihadapan umum dsbnya.

Pada konteks hukuman fisik dan psikis tersebut perlu dipahami bahwa sekolah sebagai sebuah institusi bagi pendidik, segogyianya pada lembaga tersebut melakukan upaya-upaya pemberian hukuman positif sebagai penegakkan tata tertib.

Sampai pada tulisan ini, saya teringat dengan sebuah madrasah aliyah yang tidak memberikan hukuman fisik dan psikis terhadap siswanya yang datang terlambat. Mereka justru disuguhkan Al-Qur’an dan diajak salat sunat berjamaah. Lain waktu, saya juga melihat pelanggaran yang dilakukan siswa diganjar dengan memberikan bahan bacaan kepada siswa tersebut. Selanjutnya, ia ditanya tentang isi bacaan yang telah dibacanya. Barangkali ini contoh ganjaran atau konsekuensi dari pelanggaran yang dilakukan oleh siswa.

Tentu akan banyak contoh sekolah/madrasah yang menerepkan pendekatan  restorative justice atau peradilan yang memulihkan. Sebab pada kenyataannya kita meyakini bahwa manusia memiliki potensi untuk memperbaiki diri jika diberikan kesempatan. Selain itu, bukankah manusia juga memiliki hati nurani yang selalu mengingatkan untuk berbuat baik, jujur, berkasih sayang dan tidak melanggar aturan.

Penulis :

Oleh Akhmad Hasbi Wayhie, M.Pd

Merupakan Tenaga Pendidik MAN 4 Banjar

Hits: 12

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar